![]() |
| Foto bersama Kawali saat menghadiri Konferensi Sungai Indonesia (KSI) 2026 yang berlangsung di Trawas, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur, pada 25 Juli 2026 |
SuaraIndo.Id — Dewan Pimpinan Wilayah Koalisi Kawal Lingkungan Hidup Indonesia Lestari Sumatera Selatan (DPW KAWALI Sumsel) mendorong pembentukan Konsorsium Sungai Indonesia sebagai wadah kolaborasi nasional dalam pengelolaan dan pelestarian sungai.
Usulan tersebut disampaikan dalam Konferensi Sungai Indonesia (KSI) 2026 yang berlangsung di Trawas, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur, pada 25–27 Juli 2026.
Konferensi yang diikuti sekitar 200 komunitas pengelola dan pecinta sungai dari berbagai daerah itu dinilai menjadi momentum menghidupkan kembali gerakan nasional penyelamatan sungai setelah vakum hampir satu dekade.
Ketua DPW KAWALI Sumatera Selatan, Chandra Anugrah, mengatakan keberadaan Konsorsium Sungai Indonesia diperlukan untuk memperkuat koordinasi lintas sektor dalam menghadapi berbagai persoalan sungai yang semakin kompleks.
"Kami mendorong terbentuknya Konsorsium Sungai Indonesia sebagai wadah bersama yang menghimpun pemerintah, komunitas, akademisi, dunia usaha, dan berbagai pemangku kepentingan lainnya agar memiliki arah yang sama dalam menjaga kelestarian sungai," kata Chandra, Sabtu (25/7).
Menurut Chandra, selama ini berbagai komunitas lingkungan telah menjalankan kegiatan konservasi secara mandiri. Namun, belum adanya forum nasional yang mampu mengintegrasikan gerakan tersebut membuat upaya penyelamatan sungai berjalan parsial.
Ia menilai konsorsium dapat menjadi ruang koordinasi nasional untuk menyusun agenda bersama, memperkuat pertukaran informasi, membangun basis data komunitas sungai, hingga merumuskan rekomendasi kebijakan kepada pemerintah.
"Kami ingin gerakan penyelamatan sungai tidak lagi berjalan sendiri-sendiri. Perlu ada kolaborasi yang kuat sehingga program konservasi di setiap daerah saling terhubung dan memiliki standar yang sama," ujarnya.
Selain pembentukan konsorsium, KAWALI Sumsel juga mengusulkan penyusunan Agenda Bersama Nasional Pengelolaan Sungai sebagai acuan bagi pemerintah daerah dan komunitas dalam menjaga kualitas sungai, memulihkan daerah aliran sungai (DAS), serta meningkatkan partisipasi masyarakat.
Chandra mengatakan persoalan sungai di Indonesia saat ini semakin beragam, mulai dari pencemaran limbah, sedimentasi, kerusakan daerah aliran sungai, hingga alih fungsi kawasan sempadan yang berdampak terhadap kualitas lingkungan dan kehidupan masyarakat.
Menurut dia, penyelesaian berbagai persoalan tersebut membutuhkan sinergi seluruh pihak, termasuk dukungan kebijakan pemerintah dan kepastian pendanaan bagi komunitas lingkungan yang selama ini bekerja secara sukarela.
"Komunitas merupakan garda terdepan dalam menjaga sungai. Karena itu, negara perlu menghadirkan dukungan yang nyata melalui kebijakan, pendanaan yang berkelanjutan, serta ruang kolaborasi yang kuat," katanya.
KAWALI Sumsel juga mengapresiasi keterlibatan pemerintah dalam Konferensi Sungai Indonesia 2026 yang dinilai menunjukkan komitmen memperkuat kerja sama dengan masyarakat sipil dalam pemulihan ekosistem sungai.
Melalui forum tersebut, KAWALI Sumsel berharap pembentukan Konsorsium Sungai Indonesia dapat menjadi salah satu rekomendasi strategis yang ditindaklanjuti pemerintah sebagai bagian dari penguatan tata kelola sungai secara nasional.
"Menyelamatkan sungai berarti menyelamatkan kehidupan. Kami berharap Konferensi Sungai Indonesia 2026 menjadi titik awal lahirnya kebijakan nasional yang mampu memperkuat kolaborasi seluruh elemen bangsa dalam menjaga keberlanjutan sumber daya air," pungkas Chandra.***
