Legitnya Gula Kelapa Buatan Pak Iman, Menjaga Warisan Rasa Tradisional Desa Cukil

Editor: Redaksi author photo

Legitnya Gula Kelapa Buatan Pak Iman, Menjaga Warisan Rasa Tradisional Desa Cukil
Suaraindo.id – Aroma harum nira kelapa yang sedang direbus menyambut siapa saja yang melintas di dapur sederhana milik Pak Iman Gimin, warga Desa Cukil, Kecamatan Tengaran, Kabupaten Semarang. Di tengah pelaksanaan program TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) Reguler ke-129, Jumat (24/7/2026), pria paruh baya itu tetap tekun mengolah nira menjadi gula kelapa tradisional yang telah menjadi sumber penghidupan keluarganya selama bertahun-tahun.

Sejak dini hari, Pak Iman memulai aktivitasnya dengan memanjat puluhan pohon kelapa yang tersebar di sekitar rumah dan kebun warga. Berbekal bumbung bambu serta arit khusus, ia mengumpulkan nira hasil penyadapan yang dipasang sejak sore sebelumnya.

Nira segar yang telah terkumpul kemudian disaring untuk memisahkan kotoran sebelum dimasukkan ke dalam wajan besi berukuran besar. Selanjutnya, cairan manis tersebut direbus menggunakan tungku berbahan bakar kayu yang masih mempertahankan cara-cara tradisional.

Menurut Pak Iman, proses perebusan membutuhkan ketelatenan karena api harus dijaga tetap stabil. Jika terlalu besar, nira dapat hangus, sedangkan api yang terlalu kecil membuat proses karamelisasi tidak berlangsung sempurna.

Selama beberapa jam perebusan, adonan nira terus diaduk hingga perlahan berubah dari cairan bening kecokelatan menjadi lebih kental dengan warna cokelat pekat. Aroma manis khas gula kelapa pun semakin kuat memenuhi ruangan.

Tahapan paling menentukan terjadi ketika adonan mulai mengental dan meletup-letup. Pada saat itulah Pak Iman harus memastikan tingkat kekentalannya telah sesuai sebelum mengangkat wajan dari tungku dan mengaduk adonan dengan cepat agar siap dicetak.

Bersama sang istri, ia kemudian menuangkan adonan gula cair ke dalam cetakan yang terbuat dari potongan bambu maupun batok kelapa. Proses pencetakan dilakukan dengan cepat sebelum adonan mengeras di dalam wajan.

Setelah didiamkan selama beberapa puluh menit, gula kelapa pun mengeras sempurna. Produk buatan Pak Iman dikenal memiliki tekstur yang padat namun lembut saat digigit, dengan cita rasa manis alami tanpa tambahan bahan kimia maupun pemanis buatan.

Meski gula pasir kini mudah diperoleh di pasaran, gula kelapa produksi Pak Iman tetap memiliki pelanggan setia. Pedagang kuliner tradisional, pembuat kue, hingga masyarakat dari wilayah Tengaran dan Salatiga masih rutin datang untuk membeli gula cetak maupun gula cair hasil olahannya.

Bagi Pak Iman, usaha yang dijalaninya bukan sekadar memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga. Lebih dari itu, ia ingin menjaga keberlangsungan tradisi pembuatan gula kelapa yang telah diwariskan secara turun-temurun sebagai bagian dari kekayaan kuliner khas Desa Cukil.

Di tengah derasnya arus produk pangan modern, kepulan asap dari tungku tradisional milik Pak Iman menjadi simbol keteguhan masyarakat desa dalam mempertahankan kearifan lokal. Keberadaan para perajin gula kelapa seperti dirinya menjadi bukti bahwa cita rasa tradisional tetap memiliki tempat di hati masyarakat sekaligus menjadi potensi ekonomi yang patut terus dilestarikan. [rls]

Top of Form

Bottom of Form

 

Share:
Komentar

Berita Terkini