Suaraindo.id - Krisis energi kembali
menghantam Kabupaten Ketapang. Setelah masyarakat selama berminggu-minggu
menghadapi pemadaman listrik bergilir, kini kelangkaan bahan bakar minyak (BBM)
memicu antrean panjang di sejumlah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU).
Dalam tiga pekan terakhir, pasokan BBM tersendat dan mulai mengganggu aktivitas
masyarakat..jpeg)
Antrean Kendaraan mengular untuk mendapatkan BBM di SPBU Tumbang Titi Kabupaten Ketapang (Senin,20/7/26). (suaraindo.id/ist)
Pantauan jurnalis pada Selasa (21/7/2026) sekitar pukul 12.00 WIB menunjukkan antrean kendaraan roda dua dan roda empat mengular di sejumlah SPBU di Kota Ketapang. Namun, pompa pengisian belum beroperasi karena stok BBM belum tiba.
Sejumlah pengendara memilih menunggu di halaman SPBU. Sebagian lainnya berpindah dari satu SPBU ke SPBU lain dengan harapan masih menemukan BBM yang tersedia.
Situasi ini menjadi tanda tanya. Sebab, hanya enam hari sebelumnya, tepatnya Rabu (15/7/2026), Terminal Fuel Jobber Ketapang menerima pasokan sekitar 1,93 juta liter BBM. Jumlah tersebut sempat diharapkan mampu mengakhiri kelangkaan yang telah berlangsung selama beberapa pekan. Namun, dalam hitungan hari, stok di sejumlah SPBU kembali kosong.
Hingga kini belum ada penjelasan resmi mengenai penyebab cepat habisnya pasokan maupun alasan keterlambatan distribusi berikutnya.
Salah seorang pengelola SPBU, Apeng, mengatakan pihaknya masih menunggu kiriman BBM hingga siang hari.
"Sampai pukul 12.00 stok belum datang. Kami sudah mencoba menghubungi pihak Jober Ketapang, tetapi belum ada jawaban. Kami juga tidak mengetahui apa yang menjadi penyebab keterlambatan masuknya stok BBM," kata Apeng.
Kelangkaan BBM mulai berdampak pada berbagai sektor.
Seorang guru di Ketapang, Rina, mengaku harus mengatur ulang jadwal keberangkatannya karena khawatir kehabisan BBM.
"Kami harus berangkat pagi untuk mengajar. Kalau harus antre berjam-jam, tentu mengganggu proses belajar mengajar."
Seorang ibu rumah tangga, Sulas, mengatakan kelangkaan BBM membuat aktivitas keluarganya ikut terganggu.
"Mengantar anak sekolah, belanja kebutuhan rumah, semuanya jadi tidak menentu. Setiap hari kami khawatir bensin habis."
Sementara itu, seorang tukang bangunan, Andi, menyebut kelangkaan BBM langsung memengaruhi penghasilannya.
"Kami dibayar harian. Kalau terlambat bekerja karena antre BBM, otomatis pendapatan ikut berkurang."
Krisis BBM yang kembali terjadi setelah pasokan 1,93 juta liter masuk ke Terminal Fuel Jobber Ketapang memunculkan pertanyaan mengenai kelancaran distribusi hingga tingkat SPBU. Hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi dari pihak penyalur mengenai penyebab keterlambatan distribusi maupun langkah yang akan ditempuh untuk menormalkan pasokan.
Bagi masyarakat Ketapang, krisis listrik belum benar-benar berlalu. Kini, mereka kembali dihadapkan pada persoalan lain: mendapatkan BBM untuk menjalankan aktivitas sehari-hari. [AH]