![]() |
| Foto Bersama Dies Natalis ke-21 FMI |
Puncak peringatan tersebut dihadiri Ketua Umum Pengurus Besar (PB) FMI, Mayjen TNI Mar (Purn) Buyung Lalana, S.E., bersama sejumlah pejabat, tokoh senior, pegiat alam terbuka, organisasi, dan komunitas dari berbagai daerah di Indonesia.
Dies Natalis ke-21 FMI tahun ini mengusung tema “Membangun Karakter, Menjaga Alam, dan Menginspirasi Negeri.” Tema tersebut menjadi penegasan arah FMI dalam mendorong kegiatan alam terbuka yang tidak hanya berorientasi pada prestasi, tetapi juga mengedepankan keselamatan, konservasi, kemanusiaan, dan tanggung jawab sosial.
Turut hadir Usman Ali Mustofa, S.Or., M.Pd., Pelaksana Tugas (Plt.) Asisten Deputi Sentra Pembinaan Olahragawan Muda, serta Brigjen TNI (Mar) Nanang Saefulloh, S.E., M.M., Asisten Intelijen (Asintel) Pangkormar.
Hadir pula Ismail Fahmi dari Direktorat Asia Selatan dan Asia Tengah Kementerian Luar Negeri, para tokoh senior, pegiat alam terbuka, serta perwakilan organisasi dan komunitas.
Sejumlah organisasi seperti APGI, Wanadri, Mapala, dan berbagai komunitas pegiat alam terbuka turut ambil bagian. Kehadiran lintas organisasi tersebut mencerminkan semangat kolaborasi dalam membangun aktivitas alam terbuka yang aman, berprestasi, dan tetap bertanggung jawab terhadap kelestarian lingkungan.
Ketua Panitia Dies Natalis FMI ke-21, Sumardi, mengatakan peringatan tahun ini tidak sekadar menjadi ajang memperingati perjalanan organisasi, tetapi juga momentum memberikan penghargaan kepada anggota maupun pihak di luar FMI yang telah memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat.
Menurutnya, sejumlah pegiat alam terbuka dan anggota FMI selama ini turut terlibat dalam kegiatan kemanusiaan, termasuk membantu penanganan musibah dan bencana di berbagai wilayah Indonesia hingga kegiatan kemanusiaan di luar negeri.
“Dies Natalis ini juga menjadi momentum untuk memberikan apresiasi kepada anggota FMI dan di luar anggota FMI yang terjun langsung membantu menangani musibah, baik di Indonesia maupun di luar Indonesia,” ujar Sumardi.
Apresiasi juga diberikan kepada pegiat alam terbuka dan anggota FMI yang telah menorehkan prestasi. Penghargaan tersebut menjadi bentuk penghormatan atas dedikasi, kontribusi, dan pencapaian mereka dalam kegiatan alam terbuka maupun kemanusiaan.
Puncak Dies Natalis ke-21 FMI turut diisi dengan sharing session yang menghadirkan ruang berbagi pengalaman, pengetahuan, dan inspirasi dari para tokoh serta pegiat alam terbuka.
Berbagai isu dibahas dalam sesi tersebut, mulai dari keselamatan pendakian, konservasi, ekspedisi, prestasi olahraga alam terbuka hingga kontribusi kemanusiaan.
FMI berharap kegiatan tersebut dapat menjadi sarana transfer pengetahuan dan pengalaman antargenerasi, sekaligus memberikan inspirasi bagi generasi muda yang aktif dalam kegiatan alam terbuka.
Komitmen terhadap kelestarian alam dan keselamatan juga diperkuat melalui Deklarasi Gunung Bersih dan Deklarasi Keselamatan Pendakian.
Deklarasi tersebut menjadi bentuk kesepakatan bersama untuk meningkatkan kepedulian terhadap kebersihan kawasan gunung sekaligus membangun kesadaran mengenai pentingnya keselamatan dalam setiap aktivitas pendakian.
Semangat tersebut dirangkum dalam prinsip “Zero Waste dan Zero Accident.”
Sumardi menegaskan bahwa seorang pendaki tidak hanya dituntut mampu mencapai puncak, tetapi juga memiliki tanggung jawab untuk menjaga lingkungan dan memastikan keselamatan dirinya hingga kembali ke rumah.
Komitmen menjaga lingkungan juga diwujudkan melalui kegiatan penanaman pohon di kawasan Ksatrian Marinir Hartono, Cilandak, Jakarta Selatan.
Kegiatan tersebut menjadi simbol implementasi tema “Menjaga Alam” yang diusung dalam Dies Natalis FMI ke-21. Gerakan serupa juga dilakukan keluarga besar FMI di berbagai wilayah Indonesia, baik di tingkat provinsi maupun kabupaten/kota.
Penanaman pohon diharapkan tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial, tetapi menjadi bagian dari gerakan berkelanjutan untuk meningkatkan kepedulian terhadap lingkungan.
Ketua Umum PB FMI Mayjen TNI Mar (Purn) Buyung Lalana menekankan pentingnya pembangunan karakter masyarakat Indonesia di tengah besarnya potensi sumber daya alam dan wilayah kepulauan yang dimiliki Indonesia.
Menurut Buyung, Indonesia merupakan negara kepulauan dan negara maritim dengan kekayaan alam yang besar. Namun, potensi tersebut harus diimbangi dengan karakter masyarakat yang memiliki kesadaran untuk menjaga dan mengelolanya secara bertanggung jawab.
“Negara kita negara kepulauan, negara maritim, tetapi karakternya belum maritim,” ujar Buyung.
Ia mengatakan pembangunan karakter harus berjalan beriringan dengan pembangunan fisik. Kesadaran menjaga lingkungan, baik laut maupun kawasan pegunungan, harus menjadi bagian dari karakter masyarakat Indonesia.
Buyung juga mendorong pengembangan olahraga alam terbuka sebagai sarana pembentukan karakter sekaligus peningkatan prestasi. Menurutnya, berbagai cabang olahraga seperti mountaineering, paralayang hingga olahraga di laut memiliki potensi besar untuk dikembangkan menjadi olahraga prestasi.
Puncak Dies Natalis FMI ke-21 merupakan bagian dari rangkaian kegiatan yang telah berlangsung sejak akhir Juli 2026.
Sejumlah agenda telah dilaksanakan, di antaranya kegiatan konservasi di Gunung Merbabu, sarasehan bertajuk “Kota Aman, Pendakian Aman” di Surabaya, webinar “Menjaga Jejak, Menguatkan Daya Dukung”, serta webinar pelatihan pendakian “Merdeka dari Panik, Kenali Bisa Ular.”
Rangkaian kegiatan juga mencakup pelantikan Pengurus Antar Waktu BPMI periode 2025–2029, ekspedisi, serta penyambutan kepulangan anggota keluarga besar FMI.
Melalui Dies Natalis ke-21, FMI menegaskan bahwa perjalanan organisasi tidak hanya diukur dari capaian di dunia mountaineering, tetapi juga dari kontribusi nyata bagi masyarakat, lingkungan, kemanusiaan, dan perkembangan olahraga alam terbuka di Indonesia.
Semangat “Membangun Karakter, Menjaga Alam, dan Menginspirasi Negeri” diharapkan menjadi pijakan bagi FMI untuk terus melahirkan pegiat alam terbuka yang tangguh, berprestasi, peduli lingkungan, serta memiliki kepedulian sosial dan kemanusiaan. [zen]
.jpeg)