HUT ke-81 RI di Ketapang: Upacara Khidmat, Remisi, Apresiasi Desa, dan Doa untuk Tanah Kayong

Editor: Admin author photo

Bupati Ketapang Alexander Wilyo saat menjadi pembina upacara HUT RI ke 81 tahun 2026.
SuaraIndo.id — Peringatan Hari Ulang Tahun ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia di Kabupaten Ketapang berlangsung khidmat. Upacara pengibaran Sang Merah Putih tidak hanya menjadi seremoni tahunan, tetapi juga ruang untuk merefleksikan perjalanan bangsa, memberikan penghargaan kepada masyarakat, hingga memanjatkan doa bagi keselamatan Bumi Tanah Kayong yang tengah menghadapi kemarau dan ancaman kebakaran hutan dan lahan.

Bupati Ketapang Alexander Wilyo dalam amanatnya menegaskan bahwa kemerdekaan harus dimaknai lebih dari sekadar perayaan. Menurut dia, setelah 81 tahun Indonesia merdeka, perjuangan generasi saat ini adalah mengisi kemerdekaan melalui kerja nyata, integritas, persatuan dan pengabdian kepada masyarakat.

“Semangat kemerdekaan harus kita isi dengan kerja keras, menjaga persatuan, meningkatkan pelayanan kepada masyarakat, serta memberikan kontribusi terbaik bagi daerah dan bangsa. Perjuangan kita hari ini bukan lagi mengangkat senjata, tetapi bagaimana kita bersama-sama membangun Ketapang dan Indonesia,” ujar Alexander dalam amanatnya.

Ia mengatakan, pembangunan tidak akan berjalan tanpa kebersamaan seluruh elemen masyarakat. Di Kabupaten Ketapang yang memiliki keberagaman suku, agama dan budaya, semangat gotong royong menjadi kekuatan penting untuk menjaga persatuan sekaligus mendorong kemajuan daerah.

“Ketapang adalah rumah besar kita bersama. Karena itu, kemajuan daerah ini tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, tetapi tanggung jawab kita semua. Mari kita rawat persatuan, gotong royong dan kepedulian terhadap sesama,” katanya.

Upacara pengibaran Sang Merah Putih oleh Paskibraka bersama prajurit TNI dan Polri berlangsung presisi dan khidmat. Alexander memimpin pembacaan teks Pancasila. Pembukaan UUD 1945 dibacakan Kepala Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman, sedangkan teks Proklamasi Kemerdekaan dibacakan Ketua DPRD Ketapang.

Momentum kemerdekaan juga diisi dengan penyerahan Surat Keputusan remisi kepada narapidana dan anak binaan. Bagi pemerintah daerah, remisi menjadi bagian dari proses pembinaan sekaligus kesempatan bagi warga binaan untuk memperbaiki diri dan kembali berkontribusi positif di tengah masyarakat.

“Setiap orang harus diberikan kesempatan untuk menjadi lebih baik. Semoga remisi ini menjadi motivasi untuk memperbaiki diri, kembali ke tengah keluarga dan masyarakat, serta tidak mengulangi kesalahan yang pernah dilakukan,” ujar Alexander.

Pemerintah Kabupaten Ketapang juga memberikan penghargaan kepada desa-desa berprestasi yang dinilai mampu mendorong inovasi dan pembangunan di tingkat desa.

Desa Kalinilam, Kecamatan Delta Pawan, meraih Juara 1 tingkat Kabupaten sekaligus Provinsi. Desa Mekarjaya, Kecamatan Sungai Melayu Rayak, meraih Juara 2, disusul Desa Baru, Kecamatan Benua Kayong, sebagai Juara 3. Sementara Desa Rangkung, Kecamatan Marau, menerima penghargaan kategori prestasi.

Alexander mengatakan keberhasilan desa merupakan bagian dari keberhasilan daerah. Karena itu, inovasi dan kreativitas di tingkat desa harus terus dikembangkan agar pembangunan benar-benar memberikan manfaat langsung bagi masyarakat.

“Desa adalah ujung tombak pembangunan. Prestasi ini jangan berhenti pada penghargaan, tetapi harus menjadi motivasi untuk terus berinovasi, meningkatkan pelayanan dan menggali potensi desa demi kesejahteraan masyarakat,” katanya.

Di tengah peringatan kemerdekaan, perhatian pemerintah juga tertuju pada kondisi lingkungan. Kemarau panjang dan karhutla menjadi tantangan serius yang membutuhkan kepedulian seluruh masyarakat.

Rangkaian upacara ditutup dengan doa lintas agama yang dipimpin Kantor Kementerian Agama Kabupaten Ketapang bersama para pemuka agama.

Seluruh peserta menundukkan kepala, memanjatkan doa agar hujan segera turun membasahi Bumi Tanah Kayong, mengakhiri kekeringan dan membantu mengatasi ancaman karhutla.

Doa juga secara khusus dipanjatkan untuk keselamatan, kesehatan dan kekuatan para petugas gabungan serta relawan yang masih berjuang di lapangan memadamkan api.

Alexander menegaskan, menghadapi karhutla tidak cukup hanya dengan mengandalkan pemerintah dan petugas pemadam. Kesadaran masyarakat untuk menjaga lingkungan dan tidak melakukan aktivitas yang berpotensi memicu kebakaran menjadi bagian penting dari upaya bersama.

“Menjaga Ketapang merupakan tanggung jawab bersama seluruh elemen masyarakat, bukan hanya pemerintah daerah. Mari kita jaga lingkungan, jangan membuka lahan dengan cara membakar dan mari kita saling mengingatkan,” ujarnya.

Peringatan HUT ke-81 RI di Ketapang akhirnya menjadi lebih dari sekadar upacara. Ada penghormatan terhadap sejarah, kesempatan bagi warga binaan, apresiasi bagi desa yang bekerja dan berinovasi, serta doa bagi keselamatan para pejuang karhutla dan keberkahan bagi Tanah Kayong.

Kemerdekaan, dalam konteks Ketapang, menemukan maknanya melalui kerja bersama: pemerintah yang melayani, desa yang bergerak, masyarakat yang peduli dan seluruh elemen yang menjaga persatuan.

Dari Tanah Kayong, Merah Putih bukan hanya dikibarkan. Ia menjadi simbol tekad untuk terus menjaga persatuan, merawat lingkungan dan membangun daerah demi masa depan generasi berikutnya.

Share:
Komentar

Berita Terkini