Kemarau Panjang, Petani Pringgabaya Utara Bayar Rp65 Ribu per Jam

Editor: nanang author photo


SUARAINDO.ID --------
Kemarau panjang membuat petani di Desa Pringgabaya Utara, Kecamatan Pringgabaya, Kabupaten Lombok Timur, harus merogoh kocek lebih dalam untuk memenuhi kebutuhan air tanaman.

Tanpa dukungan saluran irigasi yang memadai, petani mengandalkan sumur bor dengan biaya pengairan mencapai Rp65 ribu per jam.

Salah seorang petani, Supran, mengatakan besarnya biaya pengairan bergantung pada luas lahan dan lamanya waktu yang dibutuhkan untuk mengalirkan air ke persawahan.

Untuk mengairi lahan cabai seluas 75 are, misalnya, dibutuhkan waktu sekitar lima jam, bahkan bisa lebih.

“Sekarang Rp65 ribu per jam. Kalau lima jam, berarti Rp325 ribu sekali pengairan,” kata Supran.

Supran menjelaskan, dalam kondisi cuaca saat ini, tanaman perlu diairi sekitar dua kali dalam seminggu. Dengan kebutuhan tersebut, biaya pengairan bisa mencapai Rp650 ribu per minggu, bahkan lebih apabila durasi penyiraman bertambah.

Pengairan menggunakan mesin pompa berbahan bakar solar, yang mengambil air dari sumur bor. Kondisi tersebut membuat ongkos produksi semakin tinggi, terutama bagi petani yang mengandalkan tanaman hortikultura seperti cabai, bawang, dan tomat.

Sementara harga cabai di pasaran saat ini masih berfluktuasi, berkisar Rp35 ribu hingga Rp50 ribu per kilogram.

Ketidakpastian harga tersebut menjadi tantangan tersendiri, ketika petani harus menanggung biaya pengairan yang cukup besar.

“Kalau tidak ada saluran irigasi, kami hanya mengandalkan sumur bor. Kalau musim hujan, baru tidak terlalu bergantung pada pompa,” ujarnya, Senin 19 Oktober 2026.

Supran berharap pemerintah dapat memberikan perhatian terhadap fasilitas pengairan pertanian, terutama apabila terjadi kerusakan mesin pompa yang selama ini menjadi tumpuan petani.

Sementara itu, Ketua Kelompok Tani Ingin Maju Desa Pringgabaya Utara, HM Iskandar, mengungkapkan kapasitas layanan sumur bor pertanian yang dikelola kelompoknya kini hanya mampu mengairi sekitar 10 hektare lahan.

Padahal, sebelumnya sumur bor tersebut mampu melayani sekitar 20 hingga 25 hektare lahan. Penurunan kemampuan pengairan itu disebabkan kondisi mesin pompa yang tidak lagi sekuat sebelumnya.

“Dulu mesinnya besar, menggunakan enam silinder. Sekarang menggunakan empat silinder, sehingga kemampuannya berkurang. Kalau dulu bisa mengairi 20 sampai 25 hektare, sekarang sekitar 10 hektare,” jelas Iskandar.

Iskandar menambahkan, tarif pengairan awalnya sebesar Rp60 ribu per jam. Namun, seiring meningkatnya kebutuhan air pada musim kemarau, tarif tersebut naik menjadi Rp65 ribu per jam, untuk biaya BBM dan pemiliharaan.

Kondisi mesin yang mulai bermasalah juga menambah kekhawatiran petani. Selain mengalami kebocoran oli, mesin tersebut dinilai membutuhkan perbaikan. Namun, perbaikan belum dapat dilakukan karena sumur bor masih sangat dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan air tanaman.

Iskandar menyebutkan, kedalaman sumur bor mencapai sekitar 160 meter, sedangkan pompa dipasang pada kedalaman sekitar 65 meter. Fasilitas tersebut merupakan bantuan dari Balai Wilayah Sungai (BWS).

Menurutnya, kelompok tani telah melaporkan kondisi mesin, dan berharap realisasi bantuan dua unit pompa yang sebelumnya dijanjikan dapat segera dilakukan. Hingga saat ini, petani masih mengandalkan fasilitas yang tersedia untuk menghadapi kemarau.

Petani Terancam Merugi

Iskandar mengatakan, petani di wilayahnya saat ini menanam berbagai komoditas, mulai dari cabai, bawang, jagung, tomat hingga ubi. Namun, keterbatasan air membuat pertumbuhan tanaman dan hasil panen tidak maksimal.

“Sekarang kami seperti melawan kondisi alam. Air kurang, sementara kebutuhan tanaman cukup tinggi. Akibatnya, banyak petani mengalami kerugian karena hasil panen tidak maksimal,” katanya.

Ia berharap bantuan pompa dan perbaikan fasilitas sumur bor dapat segera direalisasikan agar cakupan pengairan kembali meningkat.

Selama musim kemarau masih berlangsung, sumur bor menjadi salah satu tumpuan utama petani untuk mempertahankan tanaman mereka.

Apabila kapasitas mesin tidak segera dipulihkan, petani menghadapi dua persoalan sekaligus, yakni tingginya biaya pengairan dan terbatasnya ketersediaan air.

Dalam kondisi tersebut, petani berharap dukungan pemerintah dapat membantu menjaga keberlangsungan usaha tani hingga musim hujan tiba.

Share:
Komentar

Berita Terkini