SUARAINDO.ID -------- Kehadiran Sekolah Rakyat Menengah Atas (SRMA) 38 Kabupaten Lombok Timur, menjadi harapan baru bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu untuk memperoleh akses pendidikan yang layak.
Dalam satu tahun perjalanannya, sekolah tersebut telah menampung 123 siswa yang mendapatkan kesempatan melanjutkan pendidikan dan mengembangkan potensi diri.
Kepala SRMA 38 Kabupaten Lombok Timur Ahmad Apandi mengatakan, saat ini sekolah memiliki 123 siswa yang terdiri dari 65 siswa putra dan 58 siswa putri. Jumlah tersebut bukan sekadar angka administratif, melainkan amanah sekaligus harapan bagi masa depan generasi muda yang harus diperjuangkan melalui pendidikan.
Apandi menyebutkan, antusiasme para siswa dalam mengikuti proses pembelajaran menunjukkan perkembangan yang menggembirakan.
Semangat belajar, keberanian menyampaikan pendapat, serta kepercayaan diri siswa mengalami peningkatan dibandingkan saat pertama kali mereka masuk sekolah.
Jika sebelumnya sebagian siswa masih merasa malu dan sungkan untuk bertanya kepada guru di dalam kelas maupun wali asuh di asrama, kini mereka mulai lebih berani berkomunikasi dan aktif dalam kegiatan pembelajaran.
Perkembangan tersebut juga terlihat dari sejumlah prestasi yang berhasil ditorehkan siswa, baik dalam bidang akademik maupun nonakademik.
"Antusiasme anak-anak di SRMA 38 Lombok Timur ini sangat luar biasa. Hal itu bisa dilihat dari semangat mereka untuk belajar, semangat untuk bisa, dan keinginan untuk menjadi lebih baik dari sebelumnya," ungkap Ahmad Apandi, Jumat 30 Oktober 2026.
Sebagai sekolah dengan sistem boarding school atau pendidikan berasrama, SRMA 38 tidak hanya memusatkan kegiatan pendidikan di ruang kelas. Para siswa juga mendapatkan pembinaan dan pendampingan selama berada di asrama.
Pola pendidikan tersebut dirancang agar proses pembelajaran berlangsung secara menyeluruh. Pendidikan di sekolah dipadukan dengan pembinaan di asrama melalui pendampingan guru dan wali asuh. Dengan demikian, perkembangan akademik, karakter, kedisiplinan, serta motivasi belajar siswa dapat terus diperhatikan.
Apandi menjelaskan, sebagian besar siswa SRMA 38 berasal dari keluarga dengan kondisi ekonomi miskin ekstrem.
Kondisi tersebut menjadi salah satu tantangan besar dalam memastikan anak-anak tetap mendapatkan kesempatan pendidikan.
Empat kelompok kondisi anak berdasarkan kemampuan dan latar belakang ekonomi keluarga.
Kelompok pertama merupakan anak-anak yang memiliki kemampuan akademik baik sekaligus didukung kondisi ekonomi keluarga yang mapan. Kelompok kedua memiliki kemampuan akademik yang masih perlu ditingkatkan, tetapi didukung kemampuan ekonomi keluarga sehingga dapat mengakses bimbingan belajar tambahan.
Sementara kelompok ketiga adalah anak-anak yang memiliki kemampuan akademik baik, tetapi menghadapi keterbatasan ekonomi. Mereka masih berpeluang mendapatkan dukungan melalui berbagai program beasiswa.
Adapun kelompok keempat merupakan anak-anak yang menghadapi keterbatasan ekonomi sekaligus membutuhkan pendampingan lebih dalam meningkatkan kemampuan akademiknya. Menurut pihak sekolah, sebagian besar siswa SRMA 38 berada dalam kelompok ini.
Karena itu, keberadaan SRMA 38 diharapkan mampu menjembatani kesenjangan akses pendidikan bagi anak-anak dari keluarga miskin ekstrem. Melalui pendidikan gratis, pendampingan di sekolah dan asrama, serta penguatan motivasi belajar, mereka diharapkan memiliki kesempatan yang sama untuk meraih masa depan lebih baik.
Satu tahun perjalanan SRMA 38 Lombok Timur menjadi bagian dari upaya menyelamatkan generasi muda dari ancaman putus sekolah. Lebih dari sekadar memberikan ruang belajar, sekolah ini berupaya membangun kepercayaan diri, karakter, dan harapan bagi 123 anak untuk terus melangkah menuju masa depan.
