Suaraindo.id – Upaya pelestarian penyu di pesisir Paloh, Kabupaten Sambas, kembali mencatat sejarah. Melalui Pokmaswas Kambau Borneo, warga pesisir berhasil menetaskan dan melepasliarkan puluhan ribu tukik ke laut bebas, menjadi simbol kegigihan menjaga satwa langka yang menjadi ciri khas pantai utara Kalimantan Barat.
Tradisi menjaga penyu di Paloh bukan hal baru. Selama lebih dari 12 tahun, warga secara swadaya memindahkan telur penyu dari sarang yang rawan perburuan ke lokasi penetasan semi-alami yang aman dan terpantau. Upaya panjang itu mulai memberi harapan baru bagi populasi penyu yang kian terancam.
Musim peneluran tahun 2025 menjadi capaian penting. Dalam periode Juli hingga September saja, tercatat 1157 penyu naik ke darat di wilayah Tanjung Api hingga Tanjung Kemuning sepanjang 4 kilometer, dengan 670 di antaranya bertelur. Dari titik pantai yang relatif pendek ini, lebih dari 67 ribu telur berhasil diinkubasi. Diperkirakan lebih dari 20 ribu tukik akan menetas dan dilepas hanya dalam kurun waktu satu bulan, menjadikan periode Oktober hingga pertengahan November sebagai bulan tukik terbanyak sepanjang sejarah konservasi penyu di Paloh.
Pokmaswas Kambau Borneo bersama Pokdarwis Tanjung Api dan Yayasan Sealife Indonesia kemudian menggelar pelepasan tukik secara bertahap selama empat pekan di Pantai Tanjung Api.
Ketua Pokmaswas Kambau Borneo, Jefriden atau Long Ejep, menyebut momentum ini sebagai “Bulan Pelepasan Tukik Terbanyak”.
“Sebanyak 20.000 ekor tukik akan dilepas bertahap selama empat pekan. Setiap pekannya 5.000 ekor. Hari ini kami bersama SMK Kesehatan dan Yayasan Sealife Indonesia sudah melepas 5.000 tukik pagi dan sore,” ujar Ejep, Minggu (26/10/2025).
Agenda pelepasliaran berikutnya dijadwalkan pada 2 November, 9 November, dan puncaknya 15 November 2025 yang akan disertai pesta rakyat.
Dari 670 penyu bertelur, sebanyak 34.000 telur berhasil direlokasi Kambau Borneo ke lokasi penetasan yang lebih aman. Relokasi dilakukan untuk menghindari pencurian telur dan predator, sekaligus memudahkan monitoring dan edukasi konservasi bagi pengunjung.
Ketua Pokdarwis Tanjung Api, Muraizi, menyebut konservasi kini terintegrasi dengan wisata edukasi.
“Sejak 2022 kami menjadikan kawasan ini wisata edukatif. Tak ada tiket masuk, tapi donasi sukarela bagi keberlanjutan konservasi,” ujarnya.
Menurutnya, dukungan pendanaan pemerintah belum maksimal sehingga pelestarian sangat bergantung pada peran masyarakat dan kolaborasi dengan lembaga lain.
“Pelestarian bukan hanya soal penyu, tapi juga orang yang menjaganya,” tegasnya.
Dukungan untuk perjuangan warga pesisir Paloh datang dari berbagai pihak, termasuk Yayasan Sealife Indonesia. Perwakilannya, Dwi Suprapti, menyebut capaian tahun ini luar biasa dan layak diapresiasi.
“Ini rekor besar gerakan masyarakat. Angkanya bahkan melebihi pencatatan MURI tahun 2022 di Bali yang mencapai 15.000 tukik,” ujar Dwi.
Ia juga memuji metode pelepasan bertahap yang dinilai lebih aman bagi kelangsungan hidup tukik, serta menekankan bahwa konservasi tidak boleh berhenti meski tantangan masih banyak.
Kolaborasi lintas komunitas, dukungan akademisi, NGO, pemerintah desa hingga provinsi, juga partisipasi publik dianggap menjadi bahan bakar utama keberhasilan konservasi penyu di Paloh.
Pantai Paloh tak hanya mempertahankan identitasnya sebagai habitat penting penyu, tetapi juga menunjukkan betapa kuatnya peran masyarakat dalam menjaga warisan alam. Ribuan tukik yang berjuang menuju lautan kini menjadi saksi bahwa harapan untuk masa depan penyu masih terus menyala di ujung utara Kalimantan Barat.
IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS













