Suaraindo.id — Klaim Pemerintah Kecamatan Barus yang menyebut penanganan banjir telah mencapai 90 persen, sebagaimana dimuat dalam pemberitaan media Lintassumut.com pada 30 Desember 2025, menuai sorotan publik. Pernyataan tersebut memicu ribuan warga dari sejumlah desa dan kelurahan terdampak banjir mendatangi Kantor Kecamatan Barus untuk mempertanyakan klaim tersebut, yang dinilai tidak sepenuhnya mencerminkan kondisi riil di lapangan.
Warga menyampaikan bahwa hingga akhir Desember, dampak banjir masih dirasakan di beberapa wilayah, mulai dari kerusakan rumah, akses jalan yang belum pulih total, hingga kekhawatiran banjir kembali terjadi saat hujan turun. Mereka menilai klaim pemulihan 90 persen berpotensi menimbulkan kesan persoalan banjir di Barus telah selesai, sementara sebagian warga masih bergulat dengan dampak bencana.
Menanggapi polemik itu, Camat Barus Sanggam Panggabean memberikan klarifikasi langsung kepada awak media pada Sabtu (31/12/2025) di lingkungan Kantor Kecamatan Barus. Ia menegaskan bahwa pernyataan pemulihan 90 persen tidak dimaksudkan menggambarkan keseluruhan kondisi pascabanjir, melainkan merujuk pada penanganan titik-titik rawan utama yang berpotensi memicu banjir berulang dan mengganggu simpul ekonomi masyarakat.
Menurut Sanggam, sejak awal pemerintah kecamatan memfokuskan penanganan pada lima persoalan mendesak, yakni jalan terisolir, tanggul jebol, jalan putus, genangan permukiman, serta gangguan aktivitas ekonomi warga. Karena curah hujan saat kejadian masih tinggi, penguatan tanggul dan pengendalian aliran air menjadi prioritas untuk mencegah banjir susulan.
Ia menjelaskan, banjir di kawasan Pasar Terandam dan Pasar Batu Gerigis dipicu oleh jebolnya tanggul Pasar Baru. Penanganan dilakukan dengan pengerahan alat berat selama lebih dari 14 hari, sementara untuk kawasan tambak, penimbunan dijadwalkan mulai dilakukan hari ini dengan estimasi kebutuhan sekitar 1.000 truk material. Setelah seluruh tahapan tersebut rampung, pemerintah kecamatan memastikan air tidak lagi masuk ke wilayah Bunga Tanjung, Ujung Batu, Kinali, dan Pasar Terandam.
Terkait kerusakan rumah warga, pemerintah kecamatan menyatakan seluruhnya telah didata dan dilaporkan ke Pemerintah Kabupaten Tapanuli Tengah dengan klasifikasi rusak ringan, rusak sedang, dan rusak berat. Kerusakan berat tercatat di Desa Bunga Tanjung dengan sedikitnya lima rumah warga hancur akibat diterjang banjir. Saat ini, tim verifikasi kabupaten telah turun langsung ke 11 desa dan dua kelurahan untuk memastikan pendataan akurat dan bantuan tepat sasaran.
Menjawab kritik warga yang menyebut dirinya jarang turun ke lapangan, Sanggam membantah dan menegaskan telah melakukan peninjauan sejak sebelum banjir besar terjadi, termasuk berada di wilayah Kinali sejak pagi hari bersama aparat terkait. Ia menekankan bahwa penanganan banjir masih berjalan dan mendorong solusi jangka panjang berupa pembangunan tanggul permanen agar banjir yang hampir terjadi setiap tahun di Barus tidak terus berulang.













