Nilai Rupiah Menguat, Sementara Inflasi Akan Tentukan Sikap Agresif BI

  • Bagikan
Ilustrasi - Rupiah telah melemah lebih dari delapan persen tahun ini, menguat 1,3 persen dan menikmati nilai tukar terbaiknya dalam periode hampir tiga pekan ini.

Suaraindo.id – Nilai tukar rupiah naik lebih dari satu persen, Kamis (1/12) sementara kekhawatiran mengenai kenaikan tingkat suku bunga terus ada setelah inflasi bertahan di atas kisaran target BI.

Rupiah telah melemah lebih dari delapan persen tahun ini, menguat 1,3 persen dan menikmati nilai tukar terbaiknya dalam periode hampir tiga pekan ini, setelah data menunjukkan inflasi Indonesia turun pada bulan November meskipun masih di atas kisaran target BI, dua persen-empat persen.

BI akan mempertahankan kebijakan suku bunga front-loaded dan pre-emptive tahun depan untuk mengendalikan inflasi, kata Gubernur BI Perry Warjiyo hari Rabu.

“Inflasi inti (core inflation) dianggap sebagai salah satu faktor utama yang akan menggerakkan BI dalam menyesuaikan kebijakannya. Kita harus melihat ini turun jauh lebih rendah sebelum BI mempertimbangkan untuk mengubah sikap hawkish-nya yang sekarang ini,” kata ekonom senior ING Nicholas Mapa.

Faktor lainnya adalah rupiah sendiri. Mapa memperkirakan BI akan menindaklanjuti dengan menaikkan suku bunga pada bulan Desember, meskipun BI terlihat memperlambat laju pengetatannya sedini tahun depan.

Indeks Harga Saham Gabungan Jakarta turun 0,6 persen

Penguatan nilai tukar mata uang yang meluas di Asia juga didukung oleh pernyataan Gubernur the Fed Jerome Powell semalam, sementara pelonggaran pembatasan COVID di China juga memberi kelegaan bagi para investor.

“Pidato (Powell) tampaknya memberi kejelasan bagi pasar bahwa penurunan terjadi lebih cepat daripada yang diperkirakan, sementara pasar sebelumnya masih terbelah dalam perkiraan mereka untuk bulan Desember,” kata ahli strategi pasar di IG Yeap Jun Rong.

Ringgit Malaysia mencapai level tertinggi dalam jangka lima bulan lebih terhadap dolar AS dan menguat sati persen. Mata uang ini menguat sekitar dua persen sejak diangkatnya perdana menteri baru pekan lalu, tetapi nilainya masih turun 5,5 persen sepanjang tahun ini.

Baht Thailand, yang hari Rabu menguat setelah bank sentralnya menaikkan suku bunga 25 basis poin, nilai tukarnya naik 1,5 persen ke level tertingginya sejak 29 Juni lalu.

Sebagian besar indeks harga saham juga mencatat kenaikan. Indeks harga saham Thailand menyentuh level tertinggi selama dua bulan lebih, meskipun saham di Filipina turun 0,5 persen dan mengakhiri kenaikan beruntun selama enam hari. Sementara itu Bank Sentral Filipina mengisyaratkan fleksibilitas kebijakan untuk membawa inflasi kembali ke targetnya. [uh/ab]

  • Bagikan