Perluas Kesadaran Masyarakat, Deteksi Dini Fatty Liver Butuh Kolaborasi Lintas Sektor

  • Bagikan
Warga mengikuti pemeriksaan kesehatan gratis pada kegiatan bakti sosial di SD Negeri 15 Banda Aceh, Aceh, Sabtu (26/10/2024). . ANTARA

Suaraindo.id – Penyakit hati berlemak non-alkohol atau fatty liver kini menjadi isu kesehatan masyarakat yang perlu mendapat perhatian serius. Dokter spesialis radiologi dari Universitas Gadjah Mada, Dr. Lina Choridah, Sp.Rad(K)PRP, menekankan pentingnya kolaborasi antara pemerintah, penyedia layanan kesehatan, dan masyarakat dalam meningkatkan kesadaran akan bahaya dan langkah deteksi dini penyakit ini.

“Untuk meningkatkan kesadaran masyarakat, diperlukan kerjasama antara pemerintah, penyedia layanan kesehatan, dan masyarakat,” ujar Lina seperti dikutip dari ANTARA, Senin (28/10/2024).

Lina mendorong pemerintah untuk memperkuat promosi kesehatan yang menitikberatkan pada deteksi dini penyakit hati berlemak non-alkohol. Sosialisasi tersebut bisa dilakukan melalui media massa dan edukasi langsung, dengan memastikan akses layanan pemeriksaan radiologi yang merata, terutama di wilayah yang sulit dijangkau.

“Kita perlu lebih aktif dalam mengedukasi masyarakat tentang risiko fatty liver dan pentingnya skrining dini,” lanjut Lina. Deteksi dini, ujarnya, memungkinkan penanganan yang tepat sehingga bisa mencegah komplikasi serius.

Selain itu, Lina juga menekankan pentingnya kolaborasi antara dokter umum dan spesialis radiologi. Menurutnya, dokter umum berperan penting dalam merujuk pasien dengan risiko tinggi seperti obesitas, diabetes, atau sindrom metabolik untuk menjalani pemeriksaan radiologi.

“Peran dokter umum sangat vital dalam hal ini. Mereka berada di garis depan dan bisa membantu deteksi dini dengan merujuk pasien berisiko,” tegas Lina.

Fatty liver kerap berkembang tanpa gejala pada tahap awal, sehingga sering kali tidak disadari. Kondisi yang tidak tertangani dapat berkembang menjadi peradangan hati atau steatohepatitis non-alkoholik (NASH), yang bisa menyebabkan kerusakan sel hati dan bahkan berujung pada sirosis atau kanker hati.

“Jika kita bisa mendeteksi fatty liver sejak dini, kita dapat mencegah kondisi yang lebih serius dengan perubahan gaya hidup, diet, dan intervensi medis yang tepat,” jelas Lina. Kondisi ini biasanya menyerang individu dengan obesitas, diabetes, atau sindrom metabolik dan gaya hidup tinggi lemak serta minim aktivitas fisik.

“Penanganan fatty liver tidak hanya melibatkan pengobatan, tetapi juga perubahan gaya hidup yang signifikan, seperti penurunan berat badan, pengaturan pola makan, dan peningkatan aktivitas fisik,” kata Lina.

Kolaborasi lintas sektor dan peningkatan kesadaran masyarakat diharapkan mampu mengurangi prevalensi penyakit hati berlemak non-alkohol di Indonesia, menjaga masyarakat dari risiko komplikasi yang bisa dicegah.

IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS

  • Bagikan