Fenomena Pasir Timbul di Sungai Kapuas, Wabup Sanggau Tinjau Dampak Kemarau Panjang di Tanjung Sekayam

Editor: Redaksi author photo

Wabup Sanggau Susana Herpena No 2 dari kanan,sedang berdialog dengan Kepala BNPB Sanggau dan Sekertaris Budi Dermawan. SUARAINDO.ID/man
Suaraindo.id — Wakil Bupati Sanggau yang juga Komandan Satuan Tugas Penanganan Kebakaran Hutan dan Lahan (Satgas Karhutla) Kabupaten Sanggau, Susana Herpena, meninjau langsung kondisi kekeringan Sungai Kapuas di kawasan Tanjung Sekayam, Muara Kantuk, Kabupaten Sanggau, Sabtu (6/9).

Peninjauan tersebut dilakukan bersama Sekretaris Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sanggau beserta staf. Kegiatan ini untuk melihat secara langsung dampak kemarau panjang yang tengah melanda wilayah tersebut, di tengah status tanggap darurat bencana asap akibat Karhutla di Kabupaten Sanggau.

Saat berada di lokasi, Susana melihat debit Sungai Kapuas mengalami penyusutan cukup drastis. Aliran sungai yang biasanya deras kini berubah menjadi hamparan pasir putih yang membentang luas di tengah sungai.

Oleh masyarakat setempat, kawasan tersebut dikenal dengan sebutan Pasir Timbul. Fenomena yang biasanya muncul saat musim kemarau itu justru menjadi daya tarik wisata baru bagi masyarakat.

Setiap sore, ratusan warga Sanggau hingga masyarakat dari luar Kabupaten Sanggau datang ke lokasi untuk berswafoto dan menikmati pemandangan hamparan pasir di tengah Sungai Kapuas.

Ramainya kunjungan masyarakat juga membuka peluang ekonomi bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Sejumlah warga terlihat berjualan makanan ringan, jajanan dan minuman di sepanjang tepian sungai.

Untuk menuju hamparan pasir di tengah sungai, pengunjung harus melewati jembatan kayu darurat yang oleh masyarakat setempat disebut jembatan ketitik. Sebab, tidak seluruh bagian hamparan pasir dalam kondisi kering dan masih terdapat sejumlah genangan air.

Pengunjung dikenakan tarif Rp5.000 untuk menggunakan jembatan tersebut.

"Awalnya jembatan hanya satu, karena pengunjung ramai dan berdesak-desakan, akhirnya warga sekitar berinisiatif membuat jembatan lagi. Sekarang sudah ada enam jembatan," ujar seorang warga di lokasi.

Sungai Jadi Urat Nadi Kehidupan

Susana mengatakan, Sungai Sekayam dan Sungai Kapuas memiliki peran yang sangat vital bagi kehidupan masyarakat Kabupaten Sanggau.

Menurutnya, keberadaan sungai tidak hanya berfungsi sebagai aliran air, tetapi juga menjadi sumber air baku masyarakat untuk kebutuhan mandi, cuci, kakus (MCK), aktivitas sehari-hari, hingga menopang perekonomian melalui sektor perikanan dan budidaya ikan dalam keramba.

"Sungai ini bukan sekadar aliran air, melainkan sumber air baku untuk kebutuhan masyarakat, untuk MCK, aktivitas sehari-hari, serta menjadi penopang perekonomian melalui perikanan dan budidaya ikan dalam keramba," kata Susana.

Namun, kemarau panjang membuat debit Sungai Sekayam mengalami penurunan signifikan. Kondisi tersebut, kata dia, juga diperburuk oleh pencemaran akibat pembuangan sampah, limbah domestik, serta bahan berbahaya lainnya ke sungai.

"Jika tidak kita jaga bersama, dampaknya akan sangat besar. Ketersediaan dan kualitas air baku terganggu, risiko gangguan kesehatan meningkat, kegiatan ekonomi pembudidaya ikan terganggu, bahkan menghambat upaya penanganan Karhutla," jelasnya.

Susana menegaskan, ketersediaan air menjadi salah satu faktor penting dalam upaya pemadaman kebakaran hutan dan lahan.

Karena itu, keberadaan sungai yang bersih dan terjaga sangat dibutuhkan untuk mendukung Satgas Karhutla dalam melakukan penanganan kebakaran di lapangan.

Warga Diminta Jaga Sungai dan Cegah Karhutla

Susana mengimbau masyarakat Kabupaten Sanggau, khususnya warga yang bermukim di sepanjang bantaran Sungai Sekayam, Sungai Kapuas, serta sungai-sungai di wilayah pedesaan, untuk bersama-sama menjaga kebersihan dan kelestarian sungai.

"Jangan membuang sampah dan limbah ke sungai. Jangan mencemari sumber air yang menjadi penopang kehidupan kita bersama. Saat alam menghadapkan kita pada kemarau panjang, mari jadikan sungai sebagai benteng ketahanan kita menghadapi musim kering," imbaunya.

Sebagai Komandan Satgas Karhutla Kabupaten Sanggau, Susana juga kembali mengingatkan masyarakat agar tidak melakukan aktivitas yang berpotensi memicu kebakaran hutan dan lahan.

Ia mengingatkan, kondisi cuaca yang kering membuat api lebih mudah menyebar sehingga kebakaran yang awalnya kecil dapat berkembang menjadi bencana yang lebih besar.

"Satu titik api kecil dalam kondisi cuaca kering seperti saat ini dapat dengan cepat berkembang menjadi kebakaran besar dan menimbulkan dampak luas bagi masyarakat, lingkungan, kesehatan, dan perekonomian. Penanganan Karhutla tidak bisa dilakukan pemerintah sendiri, perlu sinergi dan kolaborasi semua pihak," pungkasnya. (Man)


Share:
Komentar

Berita Terkini