SUARAINDO.ID ------ Kerajinan anyaman bambu menjadi salah satu aktivitas ekonomi masyarakat di Dusun Lando Daya, Desa Lando, Kecamatan Terara, Kabupaten Lombok Timur.
Salah satu produk yang masih diproduksi warga adalah keranjang bambu, yang umumnya digunakan untuk kebutuhan sehari-hari.
Salah seorang pengrajin bambu, Muhasim, mengatakan pemasaran keranjang bambu selama ini masih mengandalkan pengepul yang datang langsung ke rumah pengrajin untuk membeli hasil produksi.
“Biasanya bos langsung datang ke sini mengambil barang. Masyarakat tinggal membuat,” kata Muhasim, Kamis 17 September 2026.
Menurutnya, harga keranjang bambu berkisar Rp100 ribu untuk 20 buah, tergantung jenis dan tingkat kebutuhan pengguna.
Dalam sehari, seorang pengrajin rata-rata mampu menghasilkan sekitar 10 buah keranjang, meski jumlah tersebut bergantung pada kondisi dan waktu pengerjaan.
“Kalau dua orang bisa sekitar 10 biji per hari. Kadang sampai malam mengerjakannya,” ujarnya.
Sementara itu, Kepala Wilayah Dusun Lando Daya, Zaenal Abidin, mengatakan kerajinan bambu telah menjadi salah satu potensi ekonomi masyarakat setempat.
Ketersediaan bahan baku bambu yang cukup banyak turut mendukung aktivitas tersebut.
“Potensi kita di sini juga banyak bambu. Sebagian besar masyarakat membuat anyaman bambu, terutama keranjang buah,” kata Zaenal.
Sebagian pengrajin memperoleh bahan baku melalui pola kemitraan dengan pengepul. Pengrajin terkadang mengambil bambu terlebih dahulu dengan cara berutang, kemudian pembayarannya dilakukan setelah produk anyaman selesai dan dibeli oleh pengepul.
Pola tersebut, menurutnya, menjadi salah satu cara masyarakat menjaga keberlangsungan usaha agar hasil kerajinan tetap terserap pasar.
Zaenal menambahkan, pemerintah setempat sebelumnya juga pernah mengusulkan bantuan bagi kelompok usaha bersama (KUBE). Namun, bantuan yang diterima masyarakat baru berlangsung satu kali.
Ke depan, pihaknya berharap pemerintah daerah, khususnya Dinas Perdagangan dan Perindustrian, dapat memberikan pembinaan sekaligus membantu memperluas pemasaran produk kerajinan bambu dari Dusun Lando Daya.
“Kami berharap Dinas Perdagangan dan Perindustrian membantu memasarkan produk-produk yang ada di wilayah kami agar harganya bisa lebih tinggi. Saat ini harganya masih sangat rendah, sementara proses pengerjaannya membutuhkan waktu cukup lama,” ujarnya.
Menurut Zaenal, dukungan berupa pembinaan, akses pasar, serta peningkatan nilai jual diperlukan agar kerajinan bambu tidak hanya menjadi pekerjaan sampingan, tetapi dapat memberikan manfaat ekonomi yang lebih besar bagi masyarakat.
Dengan potensi bahan baku yang tersedia dan keterampilan yang telah diwariskan di tengah masyarakat, kerajinan bambu di Lando Daya dinilai memiliki peluang untuk terus dikembangkan, terutama jika didukung akses pemasaran yang lebih luas.
