Lotim-Lobar Perkuat Kerja Sama Dibidang Pangan, Cabai dan Bawang Jadi Perhatian

Editor: nanang author photo

Pj Bupati Lombok Barat Nurul Adha (kanan), Bupati Lombok Timur Drs Haerul Warisin (kiri), di Dupatama sagu Kantor Bupati Lombok Timur

SUARAINDO.ID -------
Pemerintah Kabupaten Lombok Timur (Pemkab Lotim) dan Pemerintah Kabupaten Lombok Barat (Pemkab Lobar) menjalin kerja sama di bidang pangan, sebagai upaya memperkuat ketersediaan bahan pokok sekaligus mengendalikan inflasi di wilayah Pulau Lombok.

Bupati Lombok Timur Drs. Haerul Warisin mengatakan, kerja sama antardaerah menjadi penting karena masing-masing wilayah memiliki potensi dan keunggulan komoditas yang dapat saling melengkapi.

Menurutnya, Lombok Timur memiliki wilayah yang luas dengan jumlah penduduk lebih dari 1,4 juta jiwa. Kabupaten ini juga memiliki potensi besar di sektor pertanian, kehutanan, kelautan dan peternakan.

"Lombok Timur ini sepertiga Pulau Lombok. Penduduk kita 1,4 juta lebih. Potensi kita secara umum ada di pertanian, kehutanan dan kelautan," kata Haerul Warisin, Rabu 30 September 2026.

Bupati menjelaskan, Lombok Timur memiliki garis pantai sekitar 200 kilometer dengan potensi kelautan yang besar. Di bagian selatan, wilayah pesisir membentang hingga kawasan Batu Nampar Selatan, sementara di bagian utara berbatasan dengan wilayah Lombok Utara dan kawasan Rinjani.

Potensi tersebut, kata dia, terus diarahkan untuk memperkuat sektor pangan dan meningkatkan pendapatan asli daerah (PAD). Salah satunya melalui pengembangan dan pengolahan hasil pertanian oleh BUMD Agro Selaparang.

"Artinya, kita konsentrasi mengembangkan bahan pokok untuk meningkatkan PAD yang masih besar potensinya," ujarnya.

Haerul menegaskan, kerja sama dengan daerah lain diperlukan agar kebutuhan pangan di Pulau Lombok dapat dipenuhi melalui pola saling melengkapi. Komoditas yang berlebih di satu daerah dapat disalurkan ke daerah yang mengalami kekurangan.

Sejumlah komoditas yang menjadi perhatian, antara lain cabai, bawang merah, telur dan daging. Sementara untuk beras dan bawang putih, ia menilai ketersediaannya relatif aman.

"Yang menjadi perhatian kita ke depan cabai, bawang merah, telur, daging dan sebagainya. Kalau ada yang berlebihan di satu daerah, bisa kita bawa ke daerah yang membutuhkan," katanya.

Menurut Haerul, Lombok Timur bahkan selama ini menjadi salah satu pemasok kebutuhan daging untuk Kota Mataram. Sekitar 70 persen kebutuhan daging Mataram disebut berasal dari Lombok Timur.

Selain pangan, Haerul juga menyebut pihaknya ingin belajar dari Lombok Barat dalam pengembangan sektor pariwisata. Ia menilai potensi kedua daerah dapat dikembangkan melalui kerja sama yang lebih luas.

Sementara itu, Pj. Bupati Lombok Barat Nurul Adha mengatakan, kerja sama pangan dengan Lombok Timur diharapkan segera ditindaklanjuti secara teknis oleh organisasi perangkat daerah (OPD) masing-masing.

Menurutnya, kerja sama tersebut penting untuk memastikan kebutuhan pangan antardaerah dapat saling dipenuhi, terutama pada komoditas yang kerap mengalami gejolak harga.

"Kalau ada yang kurang dari Lombok Barat, mudah-mudahan dalam waktu dekat bisa kita dapatkan dari Lombok Timur, sehingga distribusi kebutuhan pangan kita sama-sama tercukupi dan inflasi bisa kita kendalikan," kata Nurul Adha.

Ia menyoroti komoditas cabai dan bawang merah yang menjadi perhatian dalam menjaga stabilitas pasokan dan harga. Lombok Timur dinilai memiliki potensi produksi yang dapat membantu memenuhi kebutuhan Lombok Barat.

Nurul Adha mengatakan, kerja sama antardaerah sempat terputus sehingga berdampak pada pasokan sejumlah komoditas. Karena itu, pemerintah daerah berharap hubungan kerja sama tersebut dapat kembali diperkuat.

"Kalau cabai kita memang lebih banyak, mungkin dari Lombok Timur juga banyak. Karena sempat terputus kerja sama ini, kita juga mengalami kekurangan dan berdampak pada inflasi. Dengan kita sambung kembali, mudah-mudahan lebih aman dan terkendali," ujarnya.

Nurul Adha menambahkan, penguatan kerja sama pangan tidak hanya menyangkut cabai dan bawang merah, tetapi juga berbagai komoditas pertanian dan peternakan lainnya. Pertukaran pasokan antardaerah diharapkan mampu menjaga ketersediaan sekaligus mengurangi tekanan harga.

Kerja sama tersebut juga diharapkan menjadi langkah konkret dalam membangun ketahanan pangan di Pulau Lombok. Dengan potensi produksi yang berbeda-beda di setiap kabupaten, kebutuhan masyarakat dapat dipenuhi melalui pola distribusi yang lebih terintegrasi.

"Kalau kebutuhan inflasi bisa diatur, selama kebutuhan pangan kita tersedia. Tahun lalu, saat musim hujan, kita memang sempat mengalami kekurangan cabai," katanya.

Pemkab Lotim dan Pemkab Lobar selanjutnya akan mendorong OPD terkait untuk menyusun langkah teknis kerja sama, termasuk pemetaan komoditas, kebutuhan daerah, produksi, hingga mekanisme distribusinya.

Share:
Komentar

Berita Terkini