Menguak Jejak Syekh Abdurrauf dan Syekh Hamzah Fansuri dalam Zikir Selawat

Editor: Admin author photo

Teungku Agustari Husni, S.Pd.I., M.Pd Sekretaris PCNU Kota Subulussalam, Foto DOK Ist, Selasa (15/09/2026).
SuaraIndo.id – Zikir selawat yang diamalkan masyarakat Aceh saat ini memiliki sejarah panjang. Tradisi itu merupakan warisan dua ulama besar Aceh, Syekh Abdurrauf As-Singkili dan Syekh Hamzah Fansuri. Hal tersebut disampaikan Sekretaris PCNU Subulussalam, Teungku. Agustari Husni, S.Pd.I., M.Pd., dalam kajian khusus Sejarah Zikir Selawat. "Apa yang kita lakukan saat zikir selawat ini bukan hal baru. Ini sudah diajarkan Syekh Abdurrauf dan Syekh Hamzah Fansuri sejak 400 tahun lalu," ujar Teungku Agustari, Selasa  (15/09/2026).

Menurut Teungku. Agustari, umat perlu memahami sejarah agar tidak sekadar ikut-ikutan. Zikir selawat punya akar, punya guru, dan punya tujuan.

Syeikh Abdurrauf bin Ali al-Jawi al-Fansuri as-Singkili merupakan Mufti Kesultanan Aceh Darussalam abad ke-17 M.

Beliau yang pertama melembagakan peringatan Maulid secara masif di meunasah dan masjid. Ada perintah agar umat berkumpul setiap malam Jumat dan bulan Rabiul Awal.

Kegiatan di dalamnya zikir, selawat, dan mengkaji sirah Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi Wasallam. "Syekh Abdurrauf ingin Islam Aceh diamalkan. Lewat zikir selawat, masyarakat awam mudah dekat dengan Nabi," kata Teungku. Agustari.

Bagi beliau, zikir selawat juga menjadi ruang ukhuwah. Di majelis zikir tidak ada sekat. Pejabat, ulama, dan rakyat duduk sama rendah. "Dari sinilah lahir kekuatan Aceh. Umat bersatu dulu di majelis zikir sebelum bersatu di medan juang," ujarnya.

Sementara itu, Syekh Hamzah bin Syamsuddin al-Fansuri mengisi ruh zikir selawat dengan syair.

Hamzah Fansuri dikenal sebagai sufi dan penyair besar Aceh abad ke-16. Syair tauhid dan puji-pujian kepada Nabi karyanya masih dilantunkan hingga kini. "Syair Hamzah Fansuri itu dakwah. Bahasanya indah, maknanya dalam. Lewat syair, anak-anak hafal sejarah Nabi tanpa dipaksa," kata Teungku. Agustari.

Beberapa bait syairnya menjadi materi pokok zikir selawat. Isinya tentang kemuliaan Nabi dan cinta kepada Rasulullah. "Tanpa Hamzah Fansuri, zikir selawat kita mungkin kering. Beliau yang memberikan rasa," ujarnya.

Di akhir kajiannya, Teungku. Agustari mengingatkan pentingnya regenerasi. Ia khawatir tradisi ini putus jika tidak ada kader baru.

Apalagi di era digital, anak muda lebih sibuk dengan handphone daripada majelis zikir. "Bayangkan 20 tahun lagi. Kalau pemuda tidak ada yang bisa pimpin zikir, siapa yang lanjutkan? Jangan sampai kita yang memutuskan mata rantai Syeikh Abdurrauf dan Hamzah Fansuri," tegasnya. (M. Adhar)

Share:
Komentar

Berita Terkini