Ponpes Nurul Hijrah NW Sugian Perkuat Pencegahan Pernikahan Anak

Editor: nanang author photo


SUARAINDO.ID ------
Pondok Pesantren (Ponpes) Nurul Hijrah NW Sugian, Kecamatan Sambelia, Kabupaten Lombok Timur, terus memperkuat upaya pencegahan pernikahan Anak di kalangan peserta didik melalui penyuluhan, pendampingan, serta pengawasan secara berkelanjutan.

Sekretaris Yayasan Ponpes Nurul Hijrah NW Sugian, Suhirman, mengatakan upaya tersebut dilakukan untuk memberikan pemahaman kepada para santri agar terhindar dari pergaulan bebas maupun pernikahan pada usia dini.

Menurutnya, upaya penyadaran yang dilakukan secara konsisten mulai menunjukkan hasil. Khusus di tingkat Madrasah Tsanawiyah (MTs), dalam tiga tahun terakhir tidak ditemukan lagi kasus peserta didik yang menikah saat masih menempuh pendidikan.

“Kalau di MTs, tiga tahun terakhir ini sudah tidak ada yang menikah dini. Dulu, terutama saat kelas dua, ada saja yang menikah. Kelas dua ini merupakan masa transisi,” ujar Suhirman, belum lama ini.

Ia menjelaskan, pihak pesantren terus memberikan penyadaran dan melakukan pengawalan terhadap para santri, terutama pada masa-masa yang dianggap rentan terhadap pengaruh lingkungan.

Salah satu strategi yang diterapkan adalah sistem pendidikan boarding school atau pembelajaran dengan pola tinggal di asrama. Sistem tersebut dinilai membantu pesantren dalam melakukan pengawasan sekaligus memberikan lingkungan yang lebih terarah bagi para santri.

“Tidak henti-hentinya kita memberikan penyadaran dan pengawalan. Saya kira dengan konsep boarding school itu penting untuk mereka terjaga,” katanya.

Selain pengawasan, para santri juga diarahkan untuk mengikuti berbagai kegiatan agar memiliki aktivitas yang positif selama berada di lingkungan pesantren. Menurut Suhirman, kesibukan yang terarah dapat membantu mengurangi peluang anak terpapar berbagai pengaruh negatif dari lingkungan luar.

Ia juga menyoroti penggunaan telepon seluler (HP) sebagai salah satu tantangan dalam pengawasan anak. Paparan tontonan dan penggunaan HP yang tidak terkontrol dinilai dapat memberikan pengaruh terhadap perilaku anak.

“Kalau anak-anak kita, terutama yang perempuan, HP ini menjadi problem. Sulit kita hindari kalau mereka masih berkeliaran di luar atau tidak ada kerja sama dari orang tua untuk ikut mengawasi dan mendidik anaknya di luar lingkungan sekolah,” jelasnya.

Karena itu, selama berada di asrama, para santri tidak diperkenankan memegang HP secara bebas. Kebijakan tersebut diterapkan sebagai bagian dari upaya menciptakan lingkungan pendidikan yang lebih terkontrol sekaligus menjaga santri dari pengaruh negatif.

“Kalau di asrama lebih terjaga. Mereka tidak kita kasih pegang HP kalau sudah di asrama,” pungkasnya.

Pihak pesantren juga menilai keterlibatan orang tua tetap menjadi bagian penting dalam pencegahan pernikahan dini. Pengawasan dan pendidikan yang dilakukan di pesantren perlu berjalan seiring dengan perhatian orang tua ketika anak berada di luar lingkungan sekolah.

Share:
Komentar

Berita Terkini