Simposium Nasional PERDICI Digelar di Palembang, Bahas Penanganan Pasien Kritis dan Sepsis

Editor: Nisa author photo

Foto Ketua PERDICI periode 2022–2025, Dr. dr. Erwin Pradian, Sp.An-KIC, KAR, M.Kes, (Kanan) didampingi Ketua PERDICI Wilayah Sumatera Selatan, Dr. dr. Zulkifli, Sp.An-TI, Subsp. TI(K), M.Kes, MARS (Kiri) (SuaraIndo.id/Dok)

SuaraIndo.id
- Perhimpunan Dokter Intensive Care Indonesia (PERDICI) menggelar 17th Annual Meeting of Indonesian Society of Intensive Care Medicine (ISICM)/PERDICI di Hotel Aryaduta Palembang, Jalan POM IX, Palembang Square, Lorok Pakjo, Kecamatan Ilir Barat I, Jumat (11/9/2026).

Kegiatan tahunan tersebut menjadi forum bagi para dokter dan tenaga medis untuk memperbarui pengetahuan serta membahas perkembangan ilmu kedokteran intensif, khususnya dalam penanganan pasien dengan kondisi kritis.

Ketua PERDICI Wilayah Sumatera Selatan, Dr. dr. Zulkifli, Sp.An-TI, Subsp. TI(K), M.Kes, MARS, yang juga merupakan dokter spesialis anestesi dan konsultan intensive care di RSUP Dr. Mohammad Hoesin Palembang, mengatakan Palembang dipercaya menjadi tuan rumah kegiatan tahunan tersebut.

Menurut Zulkifli, pelaksanaan annual meeting merupakan agenda rutin PERDICI yang setiap tahun digelar di daerah berbeda. Palembang sebelumnya juga pernah menjadi tuan rumah kegiatan serupa pada 2018.

"Tahun ini kami diberi amanah oleh Ketua Umum untuk menjadi tuan rumah. Annual meeting ini merupakan kegiatan rutin tahunan organisasi dokter intensive care yang diisi dengan berbagai kegiatan ilmiah," ujar Zulkifli.

Ia menjelaskan, perkembangan ilmu kedokteran intensive care berlangsung sangat cepat. Karena itu, kegiatan ilmiah seperti annual meeting menjadi penting bagi dokter untuk terus memperbarui pengetahuan dan kemampuan dalam menangani pasien kritis.

Salah satu isu yang menjadi perhatian dalam kegiatan tersebut adalah sepsis, yakni kondisi serius ketika infeksi memicu gangguan fungsi organ dan dapat berkembang menjadi kegagalan organ hingga mengancam nyawa pasien.

Ketua PERDICI periode 2022–2025, Dr. dr. Erwin Pradian, Sp.An-KIC, KAR, M.Kes, mengatakan sepsis masih menjadi salah satu persoalan penting dalam perawatan pasien kritis.

Menurutnya, sepsis umumnya berawal dari infeksi yang kemudian memicu gangguan pada organ tubuh. Apabila tidak ditangani dengan cepat dan tepat, kondisi tersebut dapat berkembang menjadi kegagalan multi-organ.

"Yang utama untuk sepsis, ini merupakan salah satu kondisi yang sering menyebabkan kematian pada pasien yang dirawat. Infeksi dapat menyebabkan gangguan organ dan akhirnya pasien menjadi sakit kritis," kata Erwin.

Ia menuturkan, penanganan sepsis membutuhkan tindakan yang cepat sejak fase awal. Berbagai organisasi kedokteran di dunia telah mengembangkan pedoman dan rekomendasi mengenai tata laksana sepsis, mulai dari penanganan pada jam pertama hingga perawatan pasien secara keseluruhan.

"Penanganannya banyak hal, mulai dari satu jam pertama sampai akhirnya perawatan secara keseluruhan. Karena itu, penting bagi kita mengikuti perkembangan pedoman dan rekomendasi terbaru," jelasnya.

Erwin juga mengingatkan masyarakat untuk mengenali tanda-tanda yang dapat mengarah pada kondisi sepsis. Gejala dapat berupa gangguan pernapasan, gangguan hemodinamik seperti tekanan darah yang menurun, hingga perubahan tingkat kesadaran. Dalam kondisi yang semakin berat, gangguan dapat berkembang menjadi kegagalan organ.

Selain kegiatan ilmiah bagi tenaga medis, PERDICI juga berupaya meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai sepsis. Salah satunya melalui kegiatan Sepsis Run yang dijadwalkan berlangsung pada Minggu.

Kegiatan tersebut diharapkan dapat menjadi sarana edukasi kepada masyarakat mengenai sepsis, termasuk pentingnya mengenali tanda-tanda kegawatan dan mendapatkan pertolongan medis sedini mungkin.

Erwin menambahkan, perkembangan ilmu intensive care sangat dinamis sehingga para tenaga kesehatan dituntut untuk terus meningkatkan kompetensi.

"Ilmu ICU selalu berkembang dan sangat cepat. Harapannya, rekan-rekan selalu mengikuti kegiatan ilmiah secara berkala sehingga informasi dan perkembangan terbaru bisa didapatkan secara aktif," pungkasnya. (NS) 

Share:
Komentar

Berita Terkini