Suaraindo.id
– Yayasan Rumah Sakit Islam (YARSI) Pontianak
menjalin kerja sama dengan Busan Indonesia Center, Korea Selatan, melalui
penandatanganan nota kesepahaman atau Memorandum of Understanding (MoU),
Senin (12/10/2026).(1).jpeg)
Yarsi Pontianak dan Busan Indonesia Center Jalin Kerja Sama
Kerja sama ini bertujuan meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM), khususnya dosen dan mahasiswa Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (STIKes) YARSI Pontianak serta Akademi Farmasi (AKFAR) YARSI Pontianak.
Selain membuka peluang bagi dosen dan mahasiswa untuk melanjutkan pendidikan ke Korea Selatan, kerja sama tersebut juga diarahkan untuk memfasilitasi penempatan lulusan STIKes dan AKFAR YARSI Pontianak agar dapat bekerja di negara tersebut sesuai bidang keahliannya.
Penandatanganan MoU berlangsung di STIKes YARSI Pontianak. Dokumen kerja sama ditandatangani Ketua Pengurus YARSI Pontianak, Drs. Suhadi SW, M.Si., dan Direktur Busan Indonesia Center, Prof. Dr. Kim Soo Il.
Melalui kerja sama ini, Busan Indonesia Center akan membantu mencarikan perguruan tinggi di Korea Selatan yang sesuai dengan program studi yang tersedia di STIKes maupun AKFAR YARSI Pontianak. Fasilitasi tersebut diharapkan dapat memperluas akses pendidikan lanjutan sekaligus meningkatkan kompetensi lulusan agar mampu bersaing di tingkat internasional.
Lulusan D3 Berpeluang Melanjutkan Pendidikan ke Korea Selatan
Prof. Dr. Kim Soo Il menjelaskan, lulusan Diploma III (D3) Keperawatan maupun D3 Farmasi memiliki peluang untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang strata satu (S1) di Korea Selatan.
Menurutnya, mahasiswa yang melanjutkan pendidikan dari jenjang diploma dapat memperoleh pengakuan terhadap sebagian masa studi yang telah ditempuh di Indonesia. Namun, pengakuan tersebut hanya berlaku untuk empat semester, sedangkan dua semester lainnya harus ditempuh kembali di Korea Selatan.
“Dengan skema tersebut, lulusan D3 diperkirakan membutuhkan waktu sekitar empat semester atau dua tahun untuk menyelesaikan pendidikan S1 di Korea Selatan,” ungkapnya.
Ia juga menyampaikan bahwa mahasiswa yang telah menyelesaikan pendidikan S1 di Korea Selatan berpeluang memasuki dunia kerja sebagai tenaga kesehatan maupun tenaga kefarmasian sesuai disiplin ilmu yang dimiliki, dengan mengikuti persyaratan pendidikan, kualifikasi profesi, dan ketentuan kerja yang berlaku di negara tersebut.
“Kerja sama ini diharapkan menjadi salah satu jalan bagi mahasiswa YARSI Pontianak untuk memperoleh pengalaman akademik internasional sekaligus meningkatkan peluang karier setelah menyelesaikan pendidikan,” jelasnya.
Prof. Kim Soo Il Memiliki Kedekatan dengan Indonesia
Di balik kerja sama tersebut, Prof. Dr. Kim Soo Il ternyata memiliki hubungan panjang dengan Indonesia. Ia mengenal Indonesia sejak 1983, ketika mengikuti program pertukaran mahasiswa Indonesia-Korea Selatan.
Dalam program tersebut, Kim Soo Il mendapat penugasan di Tarakan, Kalimantan Timur, dan pernah berkunjung ke Pontianak, Kalimantan Barat. Pengalaman itu turut membentuk kedekatannya dengan Indonesia, termasuk kemampuannya berbahasa Indonesia dengan fasih.
Selain mendalami bahasa Indonesia, ia juga memperoleh pengalaman langsung melalui interaksi dan kegiatan di Indonesia. Pada 2022, ia membuka kantor Busan Indonesia Center di Jakarta untuk mendukung hubungan dan kerja sama Indonesia-Korea Selatan.
Selama menjalankan tugas sebagai atase kebudayaan Korea Selatan di Indonesia, Kim Soo Il juga menerima sejumlah penghargaan dari pemerintah Indonesia. Penghargaan tersebut, menurut keterangan yang disampaikan dalam kegiatan, termasuk dari Presiden Soeharto, Presiden B.J. Habibie, dan Presiden Megawati Soekarnoputri.
Pengalaman panjang tersebut menjadi salah satu modal dalam mendorong kerja sama di bidang pendidikan, kebudayaan, dan pengembangan sumber daya manusia antara kedua negara.
Dinilai Perkuat Kepercayaan terhadap YARSI Pontianak
Ketua Pengurus YARSI Pontianak, Drs. Suhadi SW, M.Si., mengatakan kehadiran Prof. Dr. Kim Soo Il dan Prof. Dr. Didin Muhafidin dalam rangkaian kegiatan tersebut menjadi momentum penting bagi pengembangan STIKes dan AKFAR YARSI Pontianak.
Menurut Suhadi, keterlibatan kedua tokoh pendidikan dari Indonesia dan Korea Selatan diharapkan dapat meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap institusi pendidikan di bawah naungan YARSI Pontianak.
“Saya menilai kerja sama tersebut memiliki nilai strategis karena tidak hanya berorientasi pada peningkatan kualitas pendidikan, tetapi juga membuka jaringan internasional bagi dosen, mahasiswa, dan alumni,” ujar Suhadi.
Kolaborasi ini diharapkan menjadi langkah awal untuk memperluas kemitraan dengan perguruan tinggi di Korea Selatan, baik dalam pengembangan akademik maupun peningkatan kompetensi lulusan agar sesuai dengan kebutuhan dunia kerja.
Kuliah Pakar Diikuti Sekitar 500 Peserta
Sebelum penandatanganan MoU, YARSI Pontianak menggelar kuliah pakar yang diikuti sekitar 500 peserta, terdiri atas dosen, mahasiswa semester akhir, dan calon wisudawan.
Kegiatan tersebut dilaksanakan secara tatap muka dan melalui Zoom. Antusiasme peserta terlihat dari banyaknya respons dan pertanyaan terhadap materi yang disampaikan kedua narasumber.
Prof. Dr. Didin Muhafidin membawakan materi mengenai kepemimpinan adaptif, sedangkan Prof. Dr. Kim Soo Il menyampaikan materi tentang peluang kerja sama Indonesia-Korea Selatan. Kedua narasumber juga membahas pentingnya kepemimpinan yang mampu menyesuaikan diri dengan perubahan serta penguatan jejaring internasional di bidang pendidikan.
Melalui kuliah pakar dan penandatanganan MoU tersebut, YARSI Pontianak berharap dapat memperluas wawasan sivitas akademika sekaligus membuka akses terhadap pendidikan dan peluang karier di tingkat internasional.
Kerja sama YARSI Pontianak dan Busan Indonesia Center ini diharapkan tidak berhenti pada penandatanganan dokumen, tetapi berlanjut melalui program konkret yang memberikan manfaat bagi dosen, mahasiswa, dan alumni STIKes serta AKFAR YARSI Pontianak. [SK]