Suaraindo.id – Puluhan ketua dan perwakilan Majelis Adat Budaya Melayu (MABM) dari 15 kecamatan di Kabupaten Sanggau menyampaikan sejumlah aspirasi kepada Pemerintah Kabupaten Sanggau dalam audiensi di Aula Daranante Kantor Bupati Sanggau, Jumat (2/10/2026).Pengurus MABM 15 Kecamatan Audiensi Dengan Bupati Sanggau.
Rombongan MABM diterima langsung Bupati Sanggau Yohanes Ontot didampingi Sekretaris Daerah Aswin Khatib, Kepala BPPKAD Wellem Suherman, serta Kepala Bidang Cipta Karya Dinas PUPR Sanggau, Deddy.
Dalam pertemuan tersebut, MABM menyampaikan empat aspirasi utama, mulai dari pembangunan rumah adat Melayu, dukungan anggaran operasional organisasi, pembangunan rumah ibadah, hingga perbaikan infrastruktur di sejumlah kecamatan.
Ketua MABM Kecamatan Sekayam, Abang Suryadi, mengatakan pembangunan rumah adat Melayu menjadi salah satu aspirasi yang disampaikan kepada pemerintah daerah.
MABM meminta pembangunan rumah adat Melayu di lima kecamatan, yakni Beduai, Kembayan, Sekayam, Noyan, dan Entikong. Pembangunan tersebut diharapkan dapat dilakukan secara proporsional seperti rumah adat kelompok masyarakat adat lainnya.
Selain pembangunan rumah adat, MABM juga meminta dukungan anggaran operasional bagi organisasi di tingkat kecamatan. Menurut Abang Suryadi, anggaran tersebut diperlukan untuk mendukung berbagai kegiatan kebudayaan, termasuk keterlibatan dalam Festival Faradjek.
“Terutama saat Festival Faradjek. Kami sangat kesulitan mengirimkan utusan mengingat keterbatasan anggaran. Kami minta Pemerintah Daerah menciptakan persamaan anggaran baik antara Melayu maupun dengan DAD,” ujarnya.
Aspirasi berikutnya berkaitan dengan dukungan terhadap pembangunan rumah ibadah. MABM berharap pemerintah daerah memberikan dukungan secara proporsional sebagaimana yang diberikan untuk pembangunan rumah ibadah agama lainnya.
“Kami minta sama-samalah, kami juga mendapatkan hak yang sama dengan yang lain,” kata Abang Suryadi.
MABM juga meminta perhatian pemerintah terhadap kondisi infrastruktur di lima kecamatan tersebut. Sejumlah ruas infrastruktur disebut masih mengalami kerusakan sehingga dinilai dapat menghambat mobilitas masyarakat dan aktivitas ekonomi.
“Kami mohon diperhatikan Pemerintah agar mobilisasi di daerah kami bisa berjalan lancar sehingga ekonomi masyarakat tidak terganggu,” pungkasnya.
Menanggapi aspirasi tersebut, Bupati Sanggau Yohanes Ontot mengatakan pemerintah daerah menerima dan akan mempertimbangkan berbagai masukan yang disampaikan MABM.
Khusus mengenai pembangunan rumah adat Melayu, Ontot mengatakan pemerintah daerah akan menyesuaikannya dengan kemampuan anggaran. Menurutnya, apabila kondisi keuangan memungkinkan, pembangunan tidak hanya dilakukan di lima kecamatan yang diusulkan.
“Dalam pertemuan ini, intinya mereka meminta Pemerintah Daerah segera mendorong pembangunan rumah adat Melayu di lima Kecamatan. Bagi kita sih kalau anggarannya memungkinkan bukan hanya lima ya, tapi semua Kecamatan,” ujar Ontot.
Ia menyebut MABM di tingkat kecamatan telah memiliki kesiapan, baik dari sisi kepengurusan maupun lahan. Namun, pembangunan tetap akan dilakukan secara bertahap dengan mempertimbangkan ketersediaan anggaran pemerintah daerah.
“Namun MABM Kecamatan memang sudah siap, baik pengurusnya maupun lahannya, walaupun nantinya dibangun bertahap. Karena yang Dayak juga ada yang belasan tahun, dan kita lihat programnya kan, tapi kata Pak Sekda tadi kita lihat juga ketersediaan anggaran,” jelasnya.
Ontot menegaskan, pemerintah daerah tidak bermaksud menghambat pembangunan rumah adat Melayu. Ia mengatakan pembangunan rumah adat merupakan aspirasi yang tetap didorong dengan menyesuaikan kemampuan keuangan daerah.
“Sampai-sampai rumah Betang di sini nih saya ngalah, belum diapa-apakan sejak saya jadi Ketua DAD 20-an tahun, karena kita mau mereka-mereka di Kecamatan,” tegas Ontot.
Untuk memudahkan perencanaan dan penganggaran, Ontot juga mengusulkan agar prototipe rumah adat Melayu di setiap kecamatan dibuat seragam. Dengan model yang sama, pemerintah dinilai akan lebih mudah menghitung kebutuhan anggaran pembangunan.
“Jangan nanti Noyan misalnya beda dengan Sekayam, buatkan sama, kayak DAD ini kan sama dia, besarnya sama, modelnya sama, kalau beda-beda susah juga kita menganggarkannya,” katanya.
Bupati berharap masyarakat Melayu dapat bersabar sembari tetap membangun komunikasi dengan pemerintah daerah. Ia memastikan aspirasi pembangunan rumah adat Melayu akan terus didorong dalam pembahasan program pemerintah setiap tahun sesuai dengan kemampuan anggaran.
“Mudah-mudahan masyarakat Melayu ini bersabar, kami di Pemerintah Daerah tetap mendorong ini setiap tahun,” tutup Bupati.[SK]